Home Traveler's Note Berburu Blue Fire di Kawah Ijen

Saya jarang naik Gunung, selain karena memang saya lebih suka maen air, juga karena beban hidup saya yang berat (baca: berat badan) membuat saya selalu berpikir tujuh kali jika ada ajakan dari teman untuk naik gunung. Tapi spesial di postingan kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya naik gunung, tepatnya Gunung Ijen. Oh iya, kunjungan ke Ijen ini merupakan lanjutan dari cerita saya sebelumnya yang merupakan rangkaian dari Trip ke Banyuwangi dan sekitarnya (klik di sini untuk membaca cerita tentang Baluran).

Pukul 23.00 malam kami sampai di parkiran tempat para pendaki berkumpul sebelum memulai perjalanan. Masih ada sedikit waktu untuk beristirahat karena kami berencana memulai perjalanan pada pukul 01.30 dini hari. Kenapa kami memilih berangkat jam segitu? Itu karena kami ingin menyaksikan ikon dari kawah Ijen yang cukup terkenal, yaitu Blue Fire. Waktu terbaik untuk melihat Blue Fire Kawah Ijen ini yaitu sekitar waktu subuh, sebelum fajar menyingsing. Konon katanya di dunia ini hanya ada dua tempat dimana kita bisa menyaksikan fenomena Blue Fire ini, yaitu di Islandia dan satunya lagi di Kawah Ijen ini. Bangga gak tuh?

Sambil menunggu waktu berangkat, Saya memilih untuk menghabiskan waktu sambil ngopi di warung kopi. Udara yang sangat dingin membuat kopi panas yang saya pesan menjadi dingin hanya dalam hitungan menit. Bapak sopir travel kami yang ikut ngopi bersama kami, ternyata dulunya adalah seorang pecinta alam. Sambil menikmati secangkir kopi, Beliau mulai menceritakan pengalaman masa mudanya dulu. Cerita yang menarik perhatian saya adalah ketika si Bapak menceritakan pengalamannya hampir meninggal saat melakukan pendakian. Saat itu dikisahkan si Bapak terperangkap bersama beberapa kawannya di gunung, ketika tiba-tiba hujan mulai turun dan asap belerang mulai pekat sehingga untuk bernapas normal pun sangat susah. Dengan tindakan heroiknya, akhirnya si Bapak berhasil memandu teman-temannya keluar dari zona bahaya tersebut.

Ngopi dulu sebelum memulai perjalanan

Ngopi dulu sebelum memulai perjalanan

Tepat pukul 01.30, kami memulai pendakian. Walaupun judulnya naik gunung, tapi jangan membayangkan keribetan seperti pendakian gunung pada umumnya yang harus ribet membuka rute. Di sini sudah tersedia jalan mulus bagi para pendaki, tapi hati-hati, soalnya tekstur jalannya berpasir. Kalo gak hati-hati bisa tergelincir, dan terbukti saya beberapa kali melihat pendaki yang terpeleset dan menggelundung.

Gelap bro, masih tengah malem

Gelap bro, masih tengah malem

Bagi kalian yang berencana mendaki Ijen pada malam hari, harap membawa senter, wajib! Trek di sini memang berupa jalan mulus, tapi jangan lengah terutama waktu malam hari soalnya di sisi jalan tersebut biasanya berbatasan langsung dengan jurang! Jarak pendakian kurang lebih sekitar 3 km, lumayan capek mengingat jalannya yang menanjak. Kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk bisa mencapai puncak. Saya pikir setelah sampai di puncak, saya langsung bisa melihat Blue Fire, ternyata anggapan saya salah. Untuk bisa melihat api biru tersebut kami harus turun lagi dan mendekat ke arah kawah, di sinilah tantangan dimulai !

Berbeda dengan jalan yang kami lalui sebelumnya yang berupa jalan mulus, untuk sampai ke kawah kami harus menuruni lereng berbatu yang harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Salah pijakan bisa-bisa terjun bebas bro.. Belum lagi, kondisi pada malam itu walaupun sebenernya cuaca sedang cerah, namun asap belerang terasa begitu pekat. Kata guide lokal di sana memang asapnya sedang naik, namun ketika saya tanya apakah kami tetap boleh turun ke bawah Beliau menjawab, “Silahkan saja kalau misalnya berani..”. Memang pada saat itu asapnya lumayan pekat yang disertai dengan bau khas belerang yang menyengat. Dalam kondisi seperti ini, susah sekali bernapas tanpa bantuan masker. Sebagian besar pendaki berhenti sampai di titik ini dan mengurungkan niat untuk turun ke kawah. Saya sempat mendengar celotehan salah satu pendaki, “Udahlah nanti Blue Fire-nya liat di Youtube aja”… (krik). Akan tetapi, kondisi tersebut tidak mengurungkan niat kami untuk melihat Blue Fire dari dekat. Udah kepalang tanggung soalnya, udah jauh-jauh datang ke sini, udah capek-capek pula naiknya, masak menyerah sampai di sini? Lanjut doong… *diketik dengan background lagu D Massive-Jangan Menyerah*

Dan memang, perjalanan ke kawah lumayan butuh perjuangan ekstra. Selain karena kondisi yang gelap serta treknya yang curam dan rawan tergelincir, kami harus mengatur napas yang semakin megap-megap akibat asap belerang yang bertambah pekat. Tidak hanya itu, mata juga mulai terasa pedes dan berair. Bukan karena keingetan mantan, tapi asap belerang yang pekat ternyata juga pedih di mata. Dan akhirnya, beberapa waktu kemudian perjuangan kami membuahkan hasil.. dari kejauhan sekelabatan api berwarna biru menjilat-jilat, Ya.. ini bukanlah api biru yang biasa saya lihat di kompor gas di dapur, tapi ini adalah sebuah fenomena alam yang cantik… BLUE FIRE KAWAH IJEN

Fenomena Blue Fire Kawah Ijen

Fenomena Blue Fire Kawah Ijen

Asap belerang ini kayak masa lalu, sama-sama bikin mata berair

Asap belerang ini kayak masa lalu, sama-sama bikin mata berair

Setelah puas mengamati Blue Fire, kami akhirnya kembali berjalan menuju ke atas. Perlahan-lahan sang fajar mulai menampakkan sinarnya, dan kemudian terlihatlah dengan jelas pemandangan di sekitar kawah Ijen. Termasuk lereng berbatu yang saya lewati, karena pada malam hari di sekeliling terlihat sangat gelap sehingga saya tidak tahu apa yang ada di sekitar.

Kalo malem hari batunya gak keliatan, kudu ekstra hati-hati

Kalo malem hari batunya gak keliatan, kudu ekstra hati-hati

Tolong menolong itu perlu

Kata Pak Guru, kita harus saling tolong-menolong

IMG_20140906_052519

Sampai di atas, pemandangan lebih ‘WAH’ lagi.. terbayar sudah rasa capek yang digantikan dengan rasa kagum akan sebuah lukisan alam yang tidak keindahannya tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Belerang, sumber penghidupan penduduk lokal

Belerang, sumber penghidupan penduduk lokal

~Kau mainkan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan~

~Kau mainkan untukku, sebuah lagu tentang negeri di awan~

Ada satu hal yang menarik mengenai objek wisata Kawah Ijen ini, dimana pengunjung wisatawan asing alias turis asing jumlahnya terlihat relatif lebih banyak dibandingkan dengan wisatawan lokal. Salut buat Tim Marketing-nya yang bisa mempromosikan keindahan alam Banyuwangi ini sampai ke mancanegara.

satu pribumi vs empat bidadari import

satu pribumi vs empat bidadari import

Suasana perjalanan saat kami kembali ke parkiran berbeda saat berangkat. Karena kini kami bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekeliling kami, seperti yang saya sebutkan tadi bahwa kami disuguhi pemandangan indah. Saat sedang berjalan, kami sempat beberapa kali berpapasan dengan para penambang belerang. Mereka tetap bergerak lincah walaupun dengan memikul belerang yang beratnya berpuluh-puluh kilogram. Bandingkan dengan saya, gak bawa apa-apa saja sudah ngos-ngosan… Payah..

Jalan yang membelah awan

Jalan yang membelah jurang

Berpapasan dengan penambang belerang

Berpapasan dengan penambang belerang

Contoh tidak baik, Jangan ditiru

Contoh tidak baik, Jangan ditiru

Penampakan trek Ijen jika disawang pada siang hari

Penampakan trek Ijen jika disawang pada siang hari

 

Setelah mengunjungi tempat ini, saya serasa memiliki hubungan emosional  dengan Gunung Ijen.. Dalam bahasa Jawa, Ijen berarti ‘sendiri’ sementara Saya masih berstatus single a.k.a jomblo alias masih sendiri..

BYE..

2 replies to this post
  1. Sempet kepikiran bakal mati di sini karena lagi enak2 liat blue fire tiba2 asap belerang berhembus kencang. Alhasil harus lari naik keatas. Sampe atas jantung mau meledak rasanya hehe

    • widih ngeri banget pengalamannya, untungnya asap belerang waktu itu agak ‘jinak’, jadi walaupun megap2 susah nafas tapi aman

Leave a Reply