Home Traveler's Note HELLO BRINDISI!! ITALIA (1)

Post kali ini saya akan bercerita pada saat saya mengunjungi BRIE di BRINDISI! – masih dalam rangkaian cerita jalan-jalan ke EROPA.

Brie itu adalah salah satu teman Amerika saya. Kami bertemu di Cirebon saat Brie menjadi Peace Corps Volunteer di Cirebon. Karena  mungkin sudah jodoh, kami pun menjadi bersahabat bersama dengan bule bule yang lain juga. Setelah menyelesaikan tugasnya di Indonesia, Brie mendapatkan scholarship full bright dan pindah ke Italia. Brie ini memang separo Italia dan separo Amerika. Dia cinta Italia sekali.

Saya pun berjanji kepada Brie, “Aku akan mengunjungimu di Italia”. * dengan tatapan ala sinetron*

Saya ini memang pengetahuanya cetek kalau ngomongin Italia. Ya taunya cuma Venice, Roma, Vatikan, Milan,….

Brindisi??? duh, dimana lagi itu? * kemudian buka peta*

Ternyata Brindisi itu Italia bagian tenggara, dan dekat laut! yaaayyy!!! Menurut Brie, Brindisi itu destinasi wisatawan lokal. Turis asing jarang yang datang ke kota ini. Saya lalu memutuskan untuk terbang dari Paris menuju Brindisi menggunakan pesawat low cost Ryan Air, semacam Air Asianya Eropa lah.

Hari pertama Brie mengajak saya berkeliling kota yang memang sangat kecil dan sepi ini. Bangunan-bangunannya pun typically bangunan Eropa yang klasik. Tujuan pertama kami adalah makan cemilan ala Italia. Di kafe pinggir pelabuhan yang anginya sepoi-sepoi Brie mentraktir saya segelas SPRITS dan camilan ala buffet. SPRITS itu minuman khasnya Italia, campuran alkohol dan sirup jeruk. It was good. 

menu cemilan dan sprits ala Italia sambil duduk dan menikmati angin sepoi sepoi

menu cemilan dan sprits ala Italia sambil duduk dan menikmati angin sepoi sepoi

Jadi kalian harus beli SPRITS ini kalau mau dapet buffet cemilan all you can eat. Kalau yang model beginian biasanya minumannya di charge agak mahal, sekitar 10 euro. Sprits inlah yang kemudian menjadi favourite saya setiap mampir direstoran.  Dan bukan Italia kalau kita gak ngomongin pizza!!!! Pizza dari negeri asalnya memang rasanya beda sama yang biasa kita makan di sini. Di sini pizzanya lebih tipis, which is saya lebih suka. Sayuran yang mereka pakai pun segar segar *mungkin dari kebun sendiri?*

Brie mempunyai tetangga yang memproduksi wine sendiri dari kebun anggurnya, dan itu enak banget! *saya nyesel gak bawa pulang*. Beli wine pun tidak dikemas di botol yang mewah seperti yang di mall-mall. Kita pakai botol air mineral bekas, hahaha. Dihitungnya per liter. Ada dua macam wine, yang alkoholnya biasa-biasa saja dan yang strong. Ternyata saya lebih menyukai yang strong..

Fun fact about Italia, mereka senang menghabiskan waktu dirumah bersama keluarga. Dan itulah mengapa toko-toko sudah pada tutup jam 4 sore. Mereka pun memulai hari cukup siang, sekitar jam 8/9 pagi *peluang buka bisnis Indomaret nih disana*.

Another fun fact di Italia itu normal kalau makan pizza satu loyang sendiri :p

Masih ada lagi, di Italia ada yang namanya polisi finance. Jadi mereka bakål ngecekin struk orang orang yang belanja. Struk pedagang juga di cek. Polisi finance ini punya hak buat nyetop orang yang baru belanja dan ngecek struk mereka. Makanya di Italia pedagang selalu kasih struk. Kalau ada yang struk nya ketinggalan, mereka bahkan sampai mengejar pembelinya. Kalau tidak, mereka bisa bermasalah dengan pajak. Jadi, kalau jalan jalan di Italia struk jangan dibuang ya!

BTW saya gak sempat foto tapi beneran mereka pakaianya kayak polisi dan pakai mobil patroli gitu!

pizza favourite saya MARGHERITA !!!

pizza favourite saya MARGHERITA !!!

Menikmati wine di rooftop , karena keasikan ngobrol pizza nya Brie yang lagi diangetin gosong :p

Menikmati wine di rooftop , karena keasikan ngobrol pizza nya Brie yang lagi diangetin gosong :p

Di hari berikutnya, Brie harus bekerja dan saya memutuskan untuk jalan-jalan sendiri. Walaupun saya punya bakat nyåsar, saya yakin akan bisa sampai ke apartemen dengan selamat. Saya terkesima dengan bangunan-bangunan yang masih sangat klasik. Mulai dari gereja sampai patung patung di sepanjang jalan.

Salah satu gereja di Brindisi

Cathredal di Brindisi

Gereja dari sudut lain

Cathredal  dari sudut lain

semacam alun alun

semacam alun alun

IMG_0303

Kolom era Romawi yang menandai akhir Via Appia kuno di Brindisi.

Oh ada kejadian lucu. Ya, saya memang orang Indonesia. Semua makanan yang ada di Italia selalu saja kurang pedas untuk saya. Brie pun hanya geleng-geleng kepala dan bilang kalau saya gila. Akhirnya waktu berjalan jalan saya menemukan sebuah toko Asia. Saya pun membeli sambal. I am so sorry, I had to do it!

Brie mengatakan meminta saus sambal atau semacamnya ketika makan di restoran merupakan hinaan bagi warga italia. Katanya itu mengindikasikan kalau makanan yang mereka masak tidak cukup enak sehingga perlu saos dan lain-lain.

Saya juga berkesempatan untuk pergi bersama Brie dan  bertemu dengan siswa-siswi yang Brie ajar di Brindisi.  Saya kemudian menceritakan tentang Indonesia dan budaya kita yang ternyata membuat mereka melongo. Seperti makan nasi, mandi 2 kali sehari, dan fakta bahwa di Indonesia tidak semua orang punya family name.

Sekolah di Brindisi ini beda sekali dengan sekolah di Indonesia pada umumnya. Yang pasti mereka tidak berseragam, boleh pakai piercing, make up, gondrong, hahahaha. Sangat bebas! It was one of the most wonderful experience I ever had. 

Apalah artily foto bersama tampa mengajari mereka gaya ala Indonesia!

Apalah arti foto bersama tampa mengajari mereka gaya ala Indonesia! they got it right!

 

Leave a Reply