Ni Hao Cina (4) : West Street, Malioboro ala YangShuo

Kami tiba di YangShou sore hari, Hotel kami letaknya di tengah kota dekat dengan West Street. West Street semacam pasar malam dan pusat penginapan yang kebanyakan ditempati turis luar, semacam malioboro nya Guilin kayaknya sih. Hal pertama yang mau kami laukan adalah PIJIT! Katanya sih di sini banyak pijit plus plus nya! Tapi guide kami yang baik hati mengantarkan kami ke tempat pijit yang beneran.

well, you are not going to China and not trying their famous massage, right ?

Tempat Pijit Beneran di YuangShou. Body massage 88 Yuan per jam atau sekitar 176 ribu rupiah
Tempat Pijit Beneran di YangShuo. Body massage 88 Yuan per jam atau sekitar 176 ribu rupiah

Saya sih suka sekali sama YangShou , jujur saya bisa saja duduk ber jam jam menikmati ramainya West street ini. Orang – orang yang berjualan di sini gak cuma jualan produk, tapi juga jualan skill. Ada yang ngamen pakai bawa bawa speaker aktif, yang menawarkan lukis foto di kaos. Makanan apapun ada di sini. Sempet liat durian goreng ( WTH! seriously I hate durian, and Imagining durian goreng is just too EWWWW )!

Barang barang yang di jual di sini pun murah murah. Gantungan kunci misalnya seharga 5 Yuan atau sekitar 10 ribu rupiah. Harga yang wajar kalau menurut saya. Saya ini memang otaknya udah gak beres saking capeknya. Pas masuk di West Street ini saya ngliat banyak wanita berjejer sambil membawa pakaian di pinggir jalan. Otak kotor saya langsung berfikir

” Ya ampun, ini jualan diri apa gimana sih?”

Laser dimana mana :)
Laser dimana mana 🙂

Nah beginilah nasib orang yang selalu negative thinking kayak saya ( hahaha ). Ternyata, begitulah cara mereka menjajakan dagangan ( bukan diri mereka ) di sana. Gadis Gadis yang bertubuh bagus ini memakai salah satu pakaian yang mereka jual ( semacam manekin hidup), untuk menarik perhatian pembeli. Tapi, mereka itu badanya bagus bagus! Ya pasti lah bajunya bagus di badan mereka! Harus nya yang jadi contoh itu orang dengan badan kayak saya, nah kalau masih tetep bagus berarti bajunya boleh di beli! * ini kenapa gue sewot ??*

Beginilah cara mereka jualan baju
Beginilah cara mereka jualan baju
Kaos lukis tangan, 30 Yuan atau sekitar 60 ribu rupiah, 15 menit jadi!
Kaos lukis tangan, 30 Yuan atau sekitar 60 ribu rupiah, 15 menit jadi!

Saya menambatkan hati saya kepada bapak yang jualan lukisan diri di kaos ini dan Mango Shop. Sayang, gak semua dari mereka bisa berbahasa Inggris. Jadi tips kalau mau jalan jalan di sini mending nulis traslation dulu aja.Setelah menghabiskan dua hari di desa, berada di kota YangShuo seperti berada di dimensi lain. Mereka sangat berbeda. Sudah sangat modern dan maju. Orang orang lebih plural ( kecuali most of them tetep sipit sih ).

Jualan CD
Jualan CD sambil praktek memainkan ( apa sih ini namanya, gendang ?)

Waktu kami berada di West Street beberapa hari menjelang hari kemerdekaan mereka, ada sekumpulan orang berseragam angkatan bersenjata Cina seperti sedang mengelar protes. Sayangnya, semua tulisan dalam bahasa Cina. Mereka juga menanyangkan video perjuangan, yang sayang sekali saya gak ngerti maksudnya. Asumsi saya sih mereka sedang memperjuangkan hak para veteran di sana. Sama kayak di Indonesia, pahlawan nya di lupakan * Peluk foto Jendral Sudirman*

jajanan ala Cina, segua di tusuk tusuk trus makanya di gado gitu ada ikan yang gede banget jugak :p
jajanan ala Cina, semua di tusuk tusuk trus makanya di gado gitu ada ikan yang gede banget jugak :p

Pedagang makanan ini pun menarik, semua makanan di tusuk dan lalu di goreng atau di grill. Bahkan terong juga disajikan! Hmm Terong bbq kali ya hahaha. Sepotong sosis babi grilled dihargai 3 ribu perak! Murah!!!!! – sebelum saya dapat pertanyaan ” kamu makan babi ?? itu yang beli sosis bukan saya-

Favourite Shop, Mango Shop. Smoothie nya enak, dan juga jualan kerajinan seperti gantungan kunci dll
Favourite Shop, Mango Shop. Smoothie nya enak, dan juga jualan kerajinan seperti gantungan kunci dll

Di Malam kedua kami di YangShuo, kami sempat pergi ke pertunjukan Sanjie Liu. Ini semacam Ramayana Ballet nya Cina. Bedanya, kalau di Ramayana ballet background nya adalah candi prambanan, kalau Sanjie Liu ini background nya bukit bukit dan dilakukan di atas air. Menarik sih, sayang pertunjukan ini gak ada subtittle nya. Kami berharap akan ada sinopsis dalam bahasa Inggris sebelum pementasan di mulai, sayang semuanya dalam bahasa Cina. Bahkan ketika saya bertanya kepada Jonny ini cerita tentang apa,diapun juga tidak paham. Bagi sebagian orang mungkin ke sana cuma mau foto pertunjukan, tapi bagi saya dan turis yang lain juga ingin mengerti apa yang dipertunjukan! Saya juga gak dapet foto yang bagus 🙁 , susah sekali motret dalam gelap dan dengan jarak yang jauh, lensa 70-200 saya masih kurang optimal.

Para penampil Sanjie Liu
Para penampil Sanjie Liu, tenang mereka itu gak telanjang kok

Di malam terakhir di YangShuo ini pula saya melihat  sepasang turis berdansa di tengah keramaian di west street ( gak sempat foto karena saya buru buru). Mereka berdansa tanpa peduli orang mulai memotret dan merekam mereka. Seperti dalam ungkapan :

Kalau sedang jatuh cinta dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak

Jadi …

ada yang mau menemani saya kembali ke YangShuo dan berdansa bersama saya di West Street ?

Dan menjadi juragan kontrakan bersama …

#KODE

Written by Devi Putri Maritha

Seorang personal Assistant yang hanya bisa bangun pagi kalau mau jalan-jalan. Gak suka naik gunung karena takut glundung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *