Home Traveler's Note One Traveler One Book on Kiluan Bay

Selain untuk melihat sudut lain keindahan negeri ini, salah satu keuntungan lain dari traveling adalah bisa menambah temen baru. Kita bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru dalam perjalanan, baik itu masyarakat sekitar, maupun rekan seperjalanan. Dan ehem.. gak sedikit juga lho yang ketemu jodoh pas traveling, hahaha

Kali ini saya akan bercerita mengenai perjalanan saya ke Teluk Kiluan. Dalam trip kali ini, saya bergabung dengan Kili-kili Adventure, sebuah trip organizer asuhan bro Bima yang memiliki slogan “Berangkat Gak Kenal, Pulang Jadi Saudara”. Saat itu saya berangkat hanya dengan dua orang teman yang saya kenal. Kami bergabung dengan puluhan orang yang belum sekalipun pernah bertemu.

Meeting poin di lakukan di Slipi Jaya Plaza, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menyebrangi selat Sunda menggunakan kapal ferry dari Pelabuhan Merak. Setibanya di Pelabuhan Bakauheni, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan mobil yang sudah disewa untuk menuju ke Teluk Kiluan. Untuk menuju ke Teluk Kiluan, sebenarnya ada dua alternatif, yaitu melalui jalur darat dan jalur laut via Pelabuhan Canti. Anda lebih memilih terombang ambing di laut terkena ombak atau punggung pegal selama di perjalanan (karena sebagian jalan yang masih kurang mulus) ? Silahkan tentukan pilihan anda sendiri, hehe..

Pada saat itu, kami melakukan perjalanan via jalur darat. Setelah menempuh perjalanan sekitar  5-6 jam perjalanan (lupa tepatnya), kami sampai di gerbang Teluk Kiluan. Ternyata jalan sedang diperbaiki sehingga mobil tidak bisa masuk, hal ini membuat kami mengeluarkan pengeluaran ekstra untuk menyewa ojek.

Gerbang Teluk Kiluan

Berpose di depan Gerbang Teluk Kiluan

Destinasi pertama adalah pantai Gayo. Untuk mencapai pantai ini, kita harus sedikit berjalan naik turun bukit melewati perkebunan masyarakat sekitar. Gak terlalu jauh sih, jaraknya kurang lebih 2 km. Cuma ya harus berhati-hati, soalnya jalannya agak licin. Tapi mungkin karena itulah, Pantai Gayo ini masih terjaga keindahannya. Deburan ombak yang menyapu pasir putih di sekitar pantai sedikit mengobati rasa lelah akibat perjalanan panjang menuju ke tempat ini.

Pantai Gayo Teluk Kiluan

Ombaknya cukup besar di sini, sebesar hasrat mas ini untuk foto narsis

Hal yang menarik di pantai ini adalah keberadaan Laguna Dodo. Sebuah objek yang dibentuk oleh alam sehingga menyerupai kolam renang air asin. Dengan kedalaman yang tidak terlalu dalam, tempat ini oke buanget buat berenang dan maen air. Tembok karang yang mengelilingi Laguna ini mencegah datangnya ombak datang sehingga air di dalam Laguna relatif tenang. Namun untuk mencapai tempat ini, diperlukan sedikit usaha dengan cara merayap ala Spiderman melewati karang-karang yang terbentang di pinggir pantai.

jalan menuju laguna dodo

harus melewatin karang terjal dulu untuk sampai ke Laguna dodo

Laguna dodo kiluan bay

Laguna ini dikelilingi oleh batu karang terjal

Laguna Galo Teluk Kiluan

Berenang di Laguna ini serasa berada di kolam renang air asin

Puas menikmati pantai dan Laguna, kami kembali ke pemukiman warga. Seperti yang telah direncanakan sebelum berangkat, kami akan melakukan kegiatan ‘One Traveler One Book, yaitu setiap orang akan membawa satu buku (bebas) untuk kemudian dibagikan kepada warga masyarakat, khususnya untuk anak kecil. Disini, kami mengumpulkan anak-anak kecil yang berasal dari penduduk setempat untuk mulai membagi-bagikan buku yang kami bawa dari rumah. Mereka mulai berebut dengan lucunya. Salah satu anak bertanya kepada saya: “Kak, ada buku mewarnai gak?”. Sayang banget waktu itu saya gak bawa, lain kali kalau saya ke sini lagi ya dek :'(

one traveller one book

Adek-adeknya lucu-lucu, tapi mbaknya yang bagiin buku juga gak kalah lucu sih

one traveller one book with kili kili adventure

One Traveler One Book

Kegiatan One Traveler One Book yang merupakan inisiatif dari tim Kili-kili Adventure ini merupakan salah satu bentuk voluntourism yang patut dicontoh oleh para traveler. Voluntourism itu sendiri berasal dari penggabungan dua kata, Voluenteer dan Tourism, yang artinya kurang lebih kita (traveler) memberi sumbangsih kepada daerah tujuan wisata yang kita datangi, gak peduli besar atau kecilnya sumbangsih kita. Jangan sebaliknya, malah merusak lingkungan atau meninggalkan jejak berupa sampah. Semoga nanti lebih banyak traveler yang senantiasa meninggalkan jejak yang positif di tempat tujuan mereka.

Sore harinya kami menyebrang ke Pulau Kelapa. Kami menyebrang dengan menggunakan perahu. Dan di luar dugaan saya, Pulau Kelapa memiliki pantai yang sangat cantik. Gradasi warna di pantainya sangat jelas terlihat. Belum lagi jika ditambah warna pasirnya, benar-benar seperti lukisan alam yang sangat indah.

lukisan alam pulau kelapa teluk kiluan

Gradasi pantainya boo.. keren gak pake abis, gak pernah abis

Jukung di Pulau Kelapa teluk Kiluan

Lukisan alam yang lainya juga nih

Di Pulau ini kami menghabiskan malam sambil berkenalan satu sama lain dan menikmati BBQ (Bakar-Bakaran iQan dan cumi) yang telah disiapkan. Keesokan harinya, kami bangun pagi-pagi untuk menjelajahi Teluk Kiluan. Inilah tujuan utama trip ini, melihat Dolphin (lumba-lumba) yang berenang di alam bebas. Kami berangkat dengan menggunakan sebuah Jukung (kapal dengan desain yang khusus). Setiap jukung maksimal hanya bisa diisi oleh 3 orang (exclude pak supir).

jukung teluk kiluan

Jukung untuk menjelajahi teluk kiluan

Mencari lumba-lumba di teluk kiluan

Petualangan dimulai.. nenek moyangkuu seorang pelauutt

Teriakan histeris keluar dari mulut kami ketika kami berhasil melihat secara langsung segerombolan Dolphin yang sedang berenang. Katrok ya? Gak papa, kami termasuk beruntung bisa melihat Dolphin di sini, karena sebenarnya tidak ada jaminan kita bisa bertemu dengan Dolphin di tempat ini. Waktu terbaik untuk melihat Dolphin di Teluk Kiluan adalah sekitar bulan April-September, dimana ikan Dolphin tersebut sering menampakkan dirinya di tempat ini. Tapi kalau tetep gak ketemu ya sudah, ANDA BELUM BERUNTUNG… COBA LAGI..

Lumba-lumba teluk kiluan

Terlihat segerombolan lumba-lumba sedang berenang

Memburu foto lumba-lumba di teluk kiluan

Baterai kamera habis, kamera hape pun jadi

Dolphin teluk kiluan

sumber : http://www.kilikiliadventure.com

Sebenarnya bukan sekali ini saya melihat lumba-lumba secara langsung, dulu waktu kecil saya pernah diajak orangtua melihat atraksi lumba-lumba. Tapi ya, saat ini saya setuju dengan para aktivis lingkungan hidup yang berpendapat bahwa sebaiknya Lumba-lumba dibiarkan di alam bebas. Analoginya, kalau kita pengen bertemu mereka ya kita sendiri yang harus bertamu ke tempat mereka, bukan malah memaksa mereka untuk ‘mendatangi’ kita dan disuruh melakukan ini itu (apalagi disuruh ngloncatin api). Dan yang gak kalah penting, kalau mau bertamu ya harus sopan, jangan malah merusak tempat tinggal mereka.

Jadilah Tamu yang Baik untuk Alam..

8 replies to this post
  1. merinding waktu lewat pinggir tebing nya broo. hahahaha ….
    dari bambu juga. anak gemuk pasti gak bisa lewat hahahaha

    blogwalking dari rutesurga.blogspot.com super sepi blognya hahaha

    • Hahaha.. masih bisa kokbro, buktinya saya aja bisa lewat 😀
      Cuman ya harus hati2 soalnya agak licin, karangnya juga tajem2

    • iya, laguna-nya ngangenin.. apalagi kalo pas lagi sepi, kayak berenang di kolam renang pribadi gitu, haha..

    • iya, saya juga punya banyak kenalan pas ngetrip gabungan dan berujung jadi temen sampe sekarang. Emang traveling itu bisa bikin kita ketemu jod… eh, temen baru maksudnya 😀

    • Sebenarnya ada pilihan via jalur laut sih, melalui pelabuhan Canti (bener canti kan ya?), cuman gak selalu available, tergantung gelombang laut. Waktu saya ke sini sih via darat, dan di situ sensasinya.. ketahanan punggung diuji, haha

Leave a Reply