Home Traveler's Note Penanggungan…. Sang Miniatur Semeru

Gunung Penanggungan atau dahulu kala bernama gunung Prawita adalah Gunung yang berbentuk Strato (Kerucut) yang terletak di dua Kabupaten, yaitu Kabupaten Mojokerto (Sisi Barat) dan Kabupaten Pasuruan (Sisi Timur). Gunung berketinggian 1653m dpl ini seringkali disebut sebagai miniatur Gunung Semeru mengingat bentuknya yang sangat mirip menyerupai Gunung Semeru. Bahkan menurut kepercayaan Jawa Kuno, Gunung Penanggungan adalah salah satu puncak Mahameru yang dipindahkan oleh penguasa alam.

Gunung Penanggungan merupakan salah satu dari sembilan gunung suci yang terdapat di Pulau Jawa yang sering digunakan untuk prosesi peribadatan pada masa lampau. Oleh sebab itu akan banyak dijumpai candi-candi yang tersebar di sekujur Gunung Penanggungan. Menurut salah seorang dinas purbakala setempat, terdapat sekitar 700 buah candi yang tersebar di Gunung Penanggungan.

gunung penanggungan

Gunung penanggungan

Walaupun tidak terlampau tinggi, namun treknya sungguh luar biasa alias banyak tanjakan dan minim bonus :D. Ada tiga jalur pendakian Gunung Penanggungan yang lazim digunakan yaitu :

  1. Jalur Tretes/ Tamiajeng (Kampus Ubaya);
  2. Jalur Jolotundo (Lewat Candi Jolotundo); dan
  3. Jalur Ngoro.

Pendakian ini dilaksanakan pada Jumat 13 Oktober 2016, kami sangat beruntung mengingat seminggu penuh daerah Mojokerto dan sekitarnya di guyur hujan lebat, namun mendekati hari pendakian cuaca berubah cerah. Bertiga (TS, Agung, dan Tarzan), kami berangkat dari kecamatan Porong, Sidoarjo. Perjalanan Porong – Tretes memakan waktu sekitar 45 menit. Tadinya jalur yang dipilih adalah Jalur Jolotundo kerena di sepanjang jalur ini terdapat puluhan situs yang kebanyakan berupa candi. Namun dengan pertimbangan hari telah malam (Jalur Jolotundo dikenal angker, hehehe..) dan teman saya tidak berani melewati jalur ini maka diputuskan lewat Jalur Tretes..

Gerbang Pendakian Jalur Tamiajeng

Gerbang Pendakian Jalur Tamiajeng

Pukul 22.00 wib setelah menyelesaikan registrasi dengan membayar Rp. 10.000,- (termasuk asuransi), mengambil air bersih (terdapat sumber air bersih di tempat registrasi), kamipun mulai mendaki. Terdapat 5 pos pada jalur Tamiajeng ini. Karena perjalanan malam jadi kami tidak sempat mengabadikan jalur pendakian.  Oh iya, karena di atas tidak terdapat sumber air maka sebaiknya membawa air cadangan dalam jumlah yang agak banyak, Berikut rangkuman perjalanan dari pos ke pos :

  1. Pos Retribusi – Pos 1 : Jalur ini masih relatif datar, kita akan melewati jalan yang relatif besar karena digunakan oleh truk-truk pengangkut kayu. Di sisi kiri dan kanan jalur kita akan menemui kebun salak, dan ketela yang dimiliki oleh penduduk sekitar, rute ini memakan waktu 30 menit
  2. Pos 1 – Pos 2 : Jalur ini juga masih relatif datar, namun sudah mulai menyempit.  Di Pos 2 ada warung yang menjual makanan kecil dan minuman. Kita bisa beristirahat sejenak mengisi perut ataupun menambah logistik. Rute ini memakan waktu 30 menit
  3. Pos 2 – Pos 3 – Pos 4 : Jalur ini mulai menanjak bahkan kadang berupa jalur air yang mulai mengering, kadang harus berpegangan pada batang-batang pohon di sepanjang jalan karena jalurnya cenderung vertikal. Menurut pengamatan bonusnya hanya ada di Pos 3 dan Pos 4 berupa tanah datar. Kita harus sangat berhati-hati pada rute ini mengingat resiko terguling sangat besar, disarankan membawa tongkat agar pijakan makin mantap. Pada Pos 3 dan 4 terdapat shelter untuk beristirahat. Perjalanan dari Pos 2 hingga Pos 4 memakan waktu 1 jam
  4. Pos 4- Pos 5 (Puncak Bayangan) : Jalur ini cukup berat, mengingat kemiringan yang cukup ekstrem. Kadang kita harus merangkak agar tidak terjatuh. Perjalanan dari Pos 4 ke Pos 5 ini memakan waktu kurang lebih 1 jam. Kira-kira pukul 1 dini hari kamu sampai di puncak bayangan. Kamipun mencari spot untuk mendirikan tenda. Sedikit tips dalam mencari spot mendirikan tenda sebaiknya di daerah yang terlindung dari angin, bisa di antara semak-semak, atau di belakang bebatuan, agar dinginnya angin gunung dapat dikurangi.

Setelah tenda berdiri kami beristirahat sejenak. Kami memakan cemilan lalu tidur agar besok paginya bisa summit attack sekalian Sunrise Attack
Namun apa daya jam 5.00 pagi kami baru bangun. Setelah shalat subuh dari ufuk timur, samar-samar mulai tampak semburat cahaya matahari. Ternyata jika beruntung dari puncak bayangan kita juga bisa menyaksikan sunrise yang indah.

Sunrise di Puncak Bayangan gunung penanggungan

Sunrise di Puncak Bayangan

Sunrise Hunter

Sunrise Hunter

Setelah mengabadikan suasana Sunrise lewat lensa kamera, kamipun mempersiapkan sarapan untuk persiapan menuju puncak Penanggungan. Pemandangan dari Puncak Bayangan ini sebenernya cukup indah. Diantaranya kita bisa melihat Gunung Arjuna, Gunung Welirang, Gunung Kelud, dan Gunung Semeru..

Puncak Bayangan

Puncak Bayangan

Gunung Welirang

Gunung Welirang

Gunung Kelud di Kediri

Gunung Kelud di Kediri yang belum lama ini erupsi

Gunung Semeru

Gunung Semeru

Gunung Welirang dan Gunung Arjuna

Gunung Welirang dan Gunung Arjuna

Pukul 08.00 WIB setelah sarapan dan menikmati secanggir kopi, kami mulai mendaki menuju puncak. Jalur ini sangat berat mengingat jalur berupa campuran tanah dan batu dengan kemiringan mencapai 70 derajat. Kadang kami harus merangkak dengan berpegangan pada rumput. Perjalanan memakan waktu kurang lebih selama 1 jam. Di pertengahan jalur kita akan menjumpai batu datar yang sering digunakan untuk foto-foto para pendaki. Namun harap berhati-hati karena di bawahnya ada jurang yang menunggu.

Foto di ujung batu

Batu yang fotogenik

Jalur Menuju Puncak gunung penanggungan

Jalur Menuju Puncak

Pukul 09.00 WIB kami mencapai puncak. Hanya sedikit orang yang ada di puncak karena kebanyakan pendaki melalukan pendakian pada Sabtu sore.  Suasana sepi yang dirindukan pendaki OldSchool seperti saya, dimana pada masa lalu gunung adalah tempat menyepi mencari ketenangan.

Pemandangan dari puncak cukup fantastis. Selain Gunung Semeru, Arjuna, Welirang, dan Kelud kita juga bisa melihat lumpur lapindo dan Pulau Madura di sisi lain.

Arjuna Welirang

Arjuna Welirang

Lumpur Lapindo aerial

Lumpur Lapindo

Puncak Penganggungan

Puncak Penganggungan

kebersamaan di puncak gunung penanggungan

Sering Bertiga namun Kami Bukan Gay 😛

Not Your Ordinary Sleeping Place :P

Not Your Ordinary Sleeping Place 😛

Puncak Bayangan dari Puncak Penanggungan

Puncak Bayangan dari Puncak

Setelah kurang lebih 1 jam berada di puncak kami memutuskan turun, karena perut mulai lapar dan matahari mulai terik.

menerawang di atas bukit

Sedikit tips lagi saat turun gunung : Jangan buru-buru turun atau berlari karena berpotensi mencederai anda atau orang lain mengingat jalur ini sangat licin dan banyak batu yang lepas!

Saat berada di Puncak bayangan, kami bertemu orang yang sangat menarik, namanya Pak Didik. Pak Didik ini orang Sidoarjo. Bagi yang sering ke Gunung Penanggungan dan sekitarnya tentulah mengenal Bapak yang satu ini. Hampir tiap minggu Pak Didik naik Penanggungan, seringkali seorang diri. Bermodal air minum, sabit, dan lemet (makanan dari ketela yang dikukus) Pak Didik naik melewati jalur yang tidak lazim, tujuannya menemukan candi atau situs bersejarah,membuka jalur, kemudian melaporkan kepada pihak yang berwenang. Kegiatan ini tidaklah mudah, mengingat jalur kadang sudah ditumbuhi alang-alang lebat, sering juga bertemu hewan berbahaya seperti Tawon Gentong atau Macan Kumbang, dan kegiatan itu dilaksanakan TANPA BAYARAN. Ketika ditanya tujannya apa Pak Didik menjawab “Sejarah adalah kejadian di masa lampau, di pelajari di masa kini untuk kepentingan masa depan. Jika situs sejarah tidak di expose bagaimana bisa kita mengambil pelajaran darinya. dan bayaran terbesar yang diterima adalah kepuasan.” Sebuah perjuangan yang sepatutnya di apresisasi.

 

1 reply to this post

Leave a Reply