Home Traveler's Note Ni Hao Cina ( 3 ) : The Beauty of Guilin

Seperti halnya photography trip kebanyakan, kami selalu berkejaran dengan waktu. Mengejar Matahari adalah point utama kami! Bangun jam 3 pagi berjalan berjam jam , hiking, hanya untuk sekedar meng capture sunrise. Photography memang hobi yang melelahkan. Begitu mendarat d bandara Guilin, kami langsung memisahkan kopor kami dan mengepak barang barang kami di travel bag. Tiga hari pertama kami harus tinggal di hotel di atas bukit, sedangkan keranjang porter kami terlalu kecil untuk koper. Belum lagi kami memulai petualangan di Guilin, sudah ada rintangan yang menghadang ( ya ampun, bahasanya! ). Tujuan pertama kami seharusnya desa Jinkeng, tapi ternyata ada tanah longsor di jalan menuju Jinkeng, sehingga akses jalan ke sana ter blokir. Sembari menunggu “pembersihan” jalanan dari tanah yang longsor, akhirnya destinasi kami dialihkan ke desa Longji. Typical desa nya sama , pemandanganya berupa terasering sawah. Ciamik lah!

Jalanan di sana mirip jalanan dari kota Jogjakarta menuju Gunungkidul. Berkelok kelok dan menanjak. Di tengah perjalanan ada sebuah kecelakaan. Sebuah truk dengan suksenya ” nyantol” di tikungan. Sehingga menutup akses jalan. Alhasil kami pun harus berjalan kaki beberapa Kilometer dengan menenteng tripod, dan travel bag kami. ( terima kasih untuk jalan kaki rutin dan volly setiap minggu! ).

Muka Muka ( Terpaksa ) Bahagia Harus Jalan Kaki - Picture by Aris Sanjaya

Muka Muka ( Terpaksa ) Bahagia Harus Jalan Kaki – Picture by Aris Sanjaya

Nampang dulu di Tugu desa Longji

Nampang dulu di Tugu desa Longji

Setelah bermalam di Desa Longji satu malam, keesokan paginya kami menuju Dazhai Village! Nah, the real hiking start here! Karena hotel kami diatas bukit ( di desa Tiantou) , perlu waktu sekitar satu jam ( kalau tanpa motret ) hingga sampai ke hotel kami. Jangan takut, udah ada path nya kok dari batu batu gitu jadi jalanya juga enak. Tapi sebelum naik ke hotel, kita terlebih dahulu menuju view point #3 dengan menggunakan cable car!! Ya Tuhan, saya ini takut ketinggian!! Tapi view dari atas cable car itu juara banget!

Excited dan takut bersamaan, expresi nya jadi kayak gini - picture by Ibu Ciane

Excited dan takut bersamaan, expresi nya jadi kayak gini – picture by Ibu Ciane

Jingkeng dari cable car

Jingkeng dari cable car

Setelah naik Cable Car selama 15 menit, dibayar dengan view yang sebagus ini!

Setelah naik Cable Car selama 15 menit, dibayar dengan view yang sebagus ini!

Tas tas kami dibawakan oleh porter, jadi kami hanya membawa kamera dan badan ( nah, kalau yang badanya berat kayak saya otomatis bebanya lebih berat), saya sih sangat menikmati “hiking” menuju hotel. Karena memang saya suka human interest jadi ya motoin orang disepanjang jalan dan kehidupan mereka itu suatu hal yang mengasyikan. Sampai di hotel beberapa orang sibuk memotret pre wedding pemilik hotel, saya sih memutuskan istirahat saja. Saya memang gak pernah mencintai sesuatu secara berlebihan. Selalu ada batas ” cukup untuk hari ini” bahkan untuk fotografi. Keesokan hari nya kami harus memulai hari pukul 3 dini hari dan berangkat hiking sekitar pukul 3.30 pagi. Spot foto kami berada di bukit seberang hotel. Butuh Waktu sekitar 1-2 jam hiking untuk sampai disana. Kalau gak salah spot nya bernama Music From Paradise ( God knows kenapa namanya ini). Sesampai disana sudah banyak orang, harus rebutan spot buat motret, setalah di gigit nyamuk sana yang ganas, dan menunggu beberapa jam guess what? Matahari nya gak nongol dong!

Akhirnya saya pun cuma menikmati udara pagi sambil duduk duduk. Sarapan ala Cina pun ( Liat Ni Hao Cina part 1 ), cuma saya sruput karena saya sudah mulai merindukan gado gado dan pecel! Akhirnya kami pun berpindah spot. Karena kebetulan beberapa dari kami ini very laid back person, kami jalan belakangan sambil foto foto HI ( Human Interest). Hingga Beberapa Km kemudian kami sadar tidak ada satupun diantara kami yang tau jalan ke spot berikutnya. Ketika salah satu dari kami ingin mencari jalan sendiri, pak Aris dengan bijaksananya berkata :

“Jangan misah, marilah kita kesasar bersama sama, itu lebih baik”

Well said pak Aris, well said! Setelah yakin kami akan kesasar ( saya sempet berharap kami kesasar dan pulang saja ke hotel, sudah capek), guide kami Jonny ternyata sudah menunggu kami di persimpangan!! Dan lanjutlah kami berjalan lagi menuju spot berikutnya. Spot berikutnya masih sama pematang pematang sawah *dan saya sudah mulai bosan*. Tapi untunglah kali ini kami menggunakan porter porter kami sebagai model!

porter porter yang baik hati

porter porter yang baik hati

Setelah puas bermain dengan porter dan matahari sudah terlalu terik kami berjalan kembali ke hotel. Beberapa dari kami masih punya tenaga untuk berjalan di kampung dan memotret orang orang daerah sekitar hotel. Saya ? Saya kembali ke hotel dan memutuskan untuk mandi dan packing barang barang dan beristirahat sebentar, karena kami akan berpindah hotel lagi! Tujuan berikutnya adalah YangShou ! Hurrayy kembali ke peradaban! * ditoyor orang sekampung Jinkeng*

 Bersambung ….

2 replies to this post
  1. Cakep banget view nya asli, jadi pengen kesana juga suatu hari

    Mirip kaya dataran tinggi dieng ya seperti nya ( liat sekilas, jangan seksama ) haha

    • hahahahaha ..
      BEda sama DIENG, itu gunung nya nongol ditengah tengah kota gitu ..
      bayangin aja di Jakarta tapi di deket PIM ada gunung segede gaban gitu :p
      bedanya lagi : PANAS!!!!!!!
      ha ha ha

Leave a Reply